REVITALISASI PERAN PEMUDA DALAM MENJAGA MODERASI BERAGAMA DAN TOLERANSI SOSIAL PADA PAC GERAKAN ANSOR KECAMATAN GARUM KABUPATEN BLITAR
Abstract
The role of youth is a strategic factor in maintaining social cohesion, particularly amidst rising issues of intolerance and religious polarization. The Ansor Youth Movement, as a Nahdlatul Ulama cadre organization, has a moral responsibility to strengthen the value of religious moderation as a foundation for harmony in society. This community service program aims to revitalize the role of youth by strengthening religious moderation insights, increasing cadre capacity, and developing tolerance-based social movement models. The activity methods include needs assistance, thematic training, peace action workshops, cadre mentoring, and media campaigns. The results of the activity show a significant increase in understanding of religious moderation, tolerant communication skills, and the emergence of new social movement initiatives based on collaboration within the Ansor Garum PAC. This activity makes a real contribution to efforts to maintain social harmony at the local level.
Peran pemuda menjadi faktor strategis dalam menjaga kohesi sosial, khususnya di tengah meningkatnya isu intoleransi dan polarisasi keagamaan. Gerakan Pemuda Ansor sebagai organisasi kader Nahdlatul Ulama memiliki tanggung jawab moral untuk menguatkan nilai moderasi beragama sebagai fondasi kerukunan di masyarakat. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan melakukan revitalisasi peran pemuda melalui penguatan wawasan moderasi beragama, peningkatan kapasitas kader, serta pengembangan model gerakan sosial berbasis toleransi. Metode kegiatan meliputi asistensi kebutuhan, pelatihan tematik, workshop aksi damai, pendampingan kader, serta kampanye media. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada pemahaman moderasi beragama, keterampilan komunikasi toleran, dan munculnya inisiatif gerakan sosial baru berbasis kolaborasi di PAC Ansor Garum. Kegiatan ini memberikan kontribusi nyata pada upaya menjaga harmoni sosial di tingkat lokal.