Mekomda: Media Komunikasi Dakwah https://ojs.unublitar.ac.id/index.php/mekomda <p>Jurnal MEKOMDA : Media Komunikasi Dakwah merupakan jurnal Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Nahdlatul Ulama Blitar. Jurnal Media Komunikasi Dakwah menyediakan artikel ilmiah hasil penelitian empiris dan analisis-reflektif bagi para praktisi dan akademisi, yang diharapkan berkontribusi dalam mengembangkan teori dan mengenalkan konsep-konsep baru di bidang komunikasi penyiaran Islam dalam perspektif yang luas; Dakwah dan Penyiaran Islam, Media, Komunikasi Politik, Jurnalistik, Public Speaking.</p> <p>Jurnal Media Komunikasi Dakwah terbit secara berkala dalam kurun waktu 6 bulan sekali yakni Februari dan Agustus. Diterbitkan oleh Fakultas Agama Islam bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Nahdlatul Ulama Blitar, Indonesia.</p> Universitas Nahdlatul Ulama Blitar en-US Mekomda: Media Komunikasi Dakwah Wejangan Sunan Kalijaga kepada Sunan Tembayat https://ojs.unublitar.ac.id/index.php/mekomda/article/view/2498 <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p>Sunan Kalijaga memiliki murid bernama Sunan Tembayat sebagai penerus keilmuannya. Penelitian deskriptif kualitatif dengan studi kepustakaan ini membahas wejangan Sunan Kalijaga kepada Sunan Tembayat. Teknik analisanya menggunakan analisis isi dengan memilah-milah data sesuai dengan fokus penelitian. Tulisan ini menghasilkan kesimpulan bahwa beberapa wejangan Sunan Kalijaga kepada Sunan Tembayat, antara lain: (1) wejangan <em>Patembayatan</em>, yakni agar setiap orang tidak merasa sombong terhadap sesama, harus saling menghormati dan menghargai tanpa memandang perbedaan suku, bangsa, kulit, dan semacamnya; (2) wejangan <em>Pambukaning Tata Malige Baitul Muharam</em>, yakni&nbsp; ilmu rasa (batin) yang berguna untuk merasakan empati terhadap semua lapisan masyarakat, tanpa memandang perbedaan agama, golongan, budaya, ras, dan semacamnya. Dengan empati menjadikan manusia tidak merasa ajarannya paling benar di hadapan Tuhan, sementara ajaran lainnya salah; (3) wejangan <em>Sangkan Paraning Dumadi</em>, yakni ilmu yang menjelaskan bahwa semua ini milik Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan; dan (4) wejangan <em>Sekar Telon</em>, yakni berupa: bunga mawar, artinya simbol dari berwarna-warna suku, budaya, agama, dan semacamnya; bunga kenanga, artinya bisa melakukan begini dan begitu; dan bunga kantil, artinya hendaknya selalu bergantung kepada Tuhan dan persatuan semua bangsa.</p> <p>Kata kunci: Wejangan; Sunan Kalijaga; Sunan Tembayat</p> Arif Muzayin Shofwan Muh. Mirwan Hariri M. Abdul Rouf Fuad Ngainul Yaqin ##submission.copyrightStatement## 2025-12-30 2025-12-30 3 2 7 16 10.28926/mekomda.v4i2.2498 DISKURSUS MASYARAKAT MADANI, CIVIL SOCIETY DAN KHAERU UMMAH https://ojs.unublitar.ac.id/index.php/mekomda/article/view/1725 <p>Civil society with its pluralism philosophically refers to a society that is in accordance with a strong frame of Islamic values The purpose of this research is to explore the relationship between the concepts of civil society, civil society, and khaeruh ummah in an Islamic context. Using library research with fifteen references, the study reveals several key findings. Firstly, civil society is seen as an ideal model practiced in Medina during the time of Prophet Muhammad, where pluralism and respect for differences were emphasised. Secondly, civil society and civil society have their own historical roots, although they share the common purpose of organizing social and state life. Thirdly, the desire to create a civilized and dignified society is closely connected to religion, which provides the main source of strength. Lastly, the concept of khaerul ummah, inspired by the verses of the Qur'an, serves as evidence of a civilized society that values humanism, freedom, and faith. Overall, this research highlights the importance of Islamic values in the formation of a pluralistic and dignified civil society.</p> Fauziah Ramdani ##submission.copyrightStatement## 2025-12-30 2025-12-30 3 2 17 26 10.28926/mekomda.v4i2.1725 Dakwah Merealisasikan Ketakwaan Melalui Kitab Bidayatul Hidayah karya Syaikh Al-Ghazali https://ojs.unublitar.ac.id/index.php/mekomda/article/view/2175 <p>Dakwah merealisasikan ketakwaan dapat dilakukan melalui berbagai macam cara, baik secara lahir maupun batin. Penelitian kualitatif dengan studi kepustakaan ini membahas tentang ajakan realisasi ketakwaan melalui <em>Kitab Bidayatul Hida</em>yah karya Syaikh Al-Ghazali. Teknik analisa datanya menggunakan analisis isi dengan memilah-milah hal-hal yang sesuai dengan fokus dan tujuan penelitian. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa ketaatan dengan realisasi menjalankan perintah Allah SWT dalam <em>Kitab Bidayatul Hidayah</em> karya Syaikh Al-Ghazali dilakukan mulai bangun tidur hingga terlelap tidur kembali, baik yang wajib maupun sunah, antara lain: saat bangun dari tidur, ketika masuk dan keluar kamar kecil, ketika berwudlu, mandi, bertayamum, pergi ke masjid, saat masuk ke dalam masjid, waktu mulai matahari terbit hingga terbenam, ketika bersiap melakukan shalat, saat tidur, shalat, menjadi imam dan makmum, saat hari Jumat, dan ketika berpuasa. Selain itu, realisasi ketakwaan dengan menjaga larangan Allah SWT terbagi menjadi dua, yaitu lahir dan batin. Menjaga larangan yang lahir dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu dengan menjaga mata, telinga, lisan, perut, kemaluan, kedua tangan, dan kedua kaki. Sedangkan ketakwaan menjaga larangan yang batin dapat dilakukan dengan membersihkan hati dengan beberapa cara, yaitu membasmi sifat iri dengki, sifat pamer, dan sifat sombong.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Kata kunci: Realisasi; Ketakwaan; Kitab Bidayatul Hidayah; Syaikh Al-Ghazali</p> Arif Muzayin Sofwan ##submission.copyrightStatement## 2025-08-15 2025-08-15 3 2 1 18 10.28926/mekomda.v4i1.2175 ANTARA IMAJINASI DAN REALITA https://ojs.unublitar.ac.id/index.php/mekomda/article/view/2508 <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p>&nbsp;</p> <p>Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi nilai-nilai komunikasi Islam dalam fenomena animasi digital Brainrot yang tengah populer di media sosial. Pendekatan yang digunakan adalah semiotika Roland Barthes dengan mengkaji makna denotatif, konotatif, dan mitos budaya yang muncul dalam video Brainrot di TikTok dan YouTube Shorts. Metode penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif dengan fokus pada interpretasi simbol visual, suara, dan teks yang merefleksikan nilai moral dalam komunikasi digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Brainrot merepresentasikan bentuk komunikasi digital yang kehilangan arah moral dan spiritualitas. Dominasi unsur humor absurd, visual hiperaktif, dan pesan instan menggambarkan krisis makna komunikasi di era modern. Dalam perspektif Islam, fenomena ini bertentangan dengan prinsip qaulan sadidan (perkataan benar), tabayyun (verifikasi), dan niyyah (niat tulus) sebagaimana dijelaskan dalam tafsir Al-Misbah karya Quraish Shihab. Analisis ini menemukan bahwa integrasi etika Islam dalam budaya digital penting untuk membangun komunikasi yang bermakna, berkeadaban, dan manusiawi. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan studi komunikasi Islam yang adaptif terhadap dinamika media digital serta menawarkan kerangka etik dalam menghadapi konten hiburan yang destruktif secara moral.</p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> komunikasi Islam, semiotika, Brainrot, budaya digital, etika komunikasi</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p>This study aims to analyze the representation of Islamic communication values in the phenomenon of Brainrot digital animation that has recently become popular on social media. The approach employed is Roland Barthes’ semiotic analysis, examining denotative, connotative, and cultural myth meanings that emerge in Brainrot videos on TikTok and YouTube Shorts. This research adopts a descriptive qualitative method, focusing on the interpretation of visual symbols, sound, and textual elements that reflect moral values in digital communication.</p> <p>The findings indicate that Brainrot represents a form of digital communication that has lost its moral direction and spiritual depth. The dominance of absurd humor, hyperactive visuals, and instant messaging reflects a crisis of meaning in contemporary communication. From an Islamic perspective, this phenomenon contradicts the principles of qaulan sadidan (truthful speech), tabayyun (verification), and niyyah (sincere intention), as elaborated in Quraish Shihab’s Tafsir al-Misbah. This analysis reveals that the integration of Islamic ethics into digital culture is essential for fostering meaningful, ethical, and humane communication. This study contributes to the development of Islamic communication studies that are adaptive to the dynamics of digital media and offers an ethical framework for responding to morally destructive entertainment content.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Keywords<em>:</em></strong><em> Islamic communication, semiotics, Brainrot, digital culture, communication ethics</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> Desnas Artanti ##submission.copyrightStatement## 2025-08-15 2025-08-15 3 2 1 7 10.28926/mekomda.v1i1.2508 Film Dokumenter Wayang Sarip sebagai Arsip Komunikasi Visual dan Ingatan Kolektif https://ojs.unublitar.ac.id/index.php/mekomda/article/view/2206 <p><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Di era digital, dokumenter film berperan tidak hanya sebagai representasi realitas, tetapi juga </span></span><br><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">sebagai arsip komunikasi visual yang membentuk memori kolektif masyarakat. Penelitian ini </span></span><br><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">fokus pada film dokumenter Wayang Sarip, yang merekam pertunjukan wayang Jekdong </span></span><br><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">sebagai ekspresi budaya lokal Jawa Timur di luar arus utama tradisi keraton. Tujuan penelitian </span></span><br><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">adalah memahami bagaimana dokumenter ini berfungsi sebagai arsip visual sekaligus media </span></span><br><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">penyiaran nilai budaya dan spiritual dalam perspektif Komunikasi Penyusunan Islam. Metode </span></span><br><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis semiotika visual dan observasi </span></span><br><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">digital. Adegan kunci, seperti tokoh wayang Sarip, ornamen, tata cahaya, dan iringan gamelan, </span></span><br><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">dianalisis sebagai unit tanda, sementara distribusi film di YouTube ditelaah untuk melihat </span></span><br><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">bagaimana arsip ini diterima publik. Validitas temuan diperkuat melalui triangulasi dengan </span></span><br><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">wawancara pembuat film dan telaah literatur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Wayang </span></span><br><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Sarip berfungsi sebagai arsip hidup yang tidak hanya mendokumentasikan tradisi, tetapi juga </span></span><br><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">membuka ruang edukasi budaya bagi generasi muda. Selain itu, penelitian ini mengusulkan </span></span><br><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">konsep baru, yakni dokumenter sebagai arsip dakwah visual, yaitu praktik komunikasi yang </span></span><br><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">mengintegrasikan pelestarian budaya dengan penyiaran nilai moral dan spiritual dan film </span></span><br><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">dokumenter digital berpotensi menjadi medium strategi untuk melestarikan tradisi, literasi </span></span><br><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">budaya, sekaligus dakwah budaya di era digital. </span></span><br><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Kata kunci: Film Dokumenter; Wayang Sarip; Komunikasi Visual; Dakwah Budaya; Arsip Digital</span></span></p> M. Andi Fikri Joko Susilo ##submission.copyrightStatement## 2025-09-15 2025-09-15 3 2 1 6 10.28926/mekomda.v4i2.2206 "PERSEPSI DAN PENGALAMAN SISWA SMA DALAM MENGHADAPI KONTEN NEGATIF DAN HOAX DI MEDIA SOSIAL: ANALISIS BERBASIS ETIKA PENYIARAN ISLAM. https://ojs.unublitar.ac.id/index.php/mekomda/article/view/2519 <h1>RINGKASAN</h1> <p>Penelitian berjudul "Persepsi dan Pengalaman Siswa SMA dalam Menghadapi Konten Negatif dan Hoax di Media Sosial: Analisis Berbasis Etika Penyiaran Islam" bertujuan untuk menggali secara mendalam bagaimana siswa sekolah menengah atas (SMA) memahami dan berinteraksi dengan konten negatif serta hoaks di media sosial, dengan menganalisis respons mereka melalui lensa etika kepenyiaran Islam. Siswa SMA merupakan generasi yang sangat akrab dengan media digital, dengan rata-rata penggunaan media sosial lebih dari empat jam sehari, menjadikan platform ini sebagai bagian integral dari gaya hidup dan sumber informasi utama mereka. Namun, keterlibatan intensif ini juga mengekspos mereka pada berbagai risiko, termasuk penyebaran hoaks, ujaran kebencian, konten negatif, serta isu privasi dan keamanan data. Penelitian ini akan menjawab pertanyaan kunci mengenai bagaimana siswa SMA memandang prevalensi dan dampak konten negatif/hoaks terhadap kesejahteraan mereka. Data awal menunjukkan bahwa sebagian besar siswa (51%) merasa bebas mengunggah apa pun ke media sosial karena menganggapnya sebagai hiburan dengan akses mudah, yang mengindikasikan potensi kurangnya kesadaran akan tanggung jawab etis dan implikasi hukum (misalnya, UU ITE). Selain itu, ada kekhawatiran tentang kurangnya mekanisme penyaringan dan pemahaman kritis terhadap konten media. Selanjutnya, penelitian ini akan mengidentifikasi strategi yang digunakan siswa untuk mengatasi atau menyaring konten tersebut, dan menganalisis keselarasan strategi ini dengan pedoman etika Islam. Etika kepenyiaran Islam menekankan prinsip-prinsip seperti kebijaksanaan (hikmah), kebenaran (tabayyun), larangan fitnah, ghibah, dan namimah, serta pentingnya menggunakan teknologi untuk kebaikan (amar ma'ruf nahi munkar). Prinsip-prinsip ini sangat relevan dalam membimbing perilaku digital yang bertanggung jawab, termasuk memverifikasi informasi sebelum berbagi dan menghindari penyebaran kebohongan atau ujaran kebencian. Dengan menganalisis persepsi dan pengalaman siswa melalui kerangka etika Islam, penelitian ini berupaya memahami tidak hanya apa yang mereka lakukan, tetapi juga mengapa mereka melakukannya, serta bagaimana nilai-nilai agama dapat memperkuat literasi digital dan etika bermedia sosial di kalangan generasi muda.</p> hariri mirwan A. Fikri Amiruddin Ihsani Enggal Chairyadi Mulyono ##submission.copyrightStatement## 2026-01-10 2026-01-10 3 2 27 39 10.28926/mekomda.v4i2.2519 PUTUSNYA RANTAI PESAN: DAMPAK FATAL BURUKNYA KOMUNIKASI GURU DAN ORANG TUA https://ojs.unublitar.ac.id/index.php/mekomda/article/view/2563 <table width="567"> <tbody> <tr> <td width="567"> <p>Penelitian ini menyoroti fenomena kritis dalam dunia pendidikan Indonesia, dimana sekolah sering kali dianggap sekadar "tempat penitipan anak" yang legal, menciptakan stigma bahwa kewajiban orang tua selesai setelah membayar biaya sekolah dan tugas guru berakhir saat bel pulang berbunyi. Fenomena ini memperburuk hubungan antara sekolah dan orang tua, menciptakan "jurang pemisah" yang memutus rantai pesan pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak fatal dari putusnya komunikasi antara guru dan orang tua terhadap perkembangan karakter siswa, serta merumuskan solusi strategis untuk merevitalisasi kemitraan tri-sentra pendidikan. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif analitis dengan kerangka teori Ekologi Bronfenbrenner (Mesosystem) dan model kemitraan Joyce Epstein. Analisis dilakukan terhadap fenomena sosial terkini, termasuk studi kasus kekerasan terhadap guru (Jambi, Subang, Trenggalek) dan kebijakan nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Hasil penelitian menunjukkan bahwa miskomunikasi menyebabkan dampak sistemik berupa: (1) Inkonsistensi disiplin yang memicu "disonansi moral" dan perilaku manipulatif siswa; (2) Eskalasi kriminalisasi guru akibat hilangnya mekanisme tabayun; (3) Kegagalan deteksi dini masalah kesehatan mental dan adiksi gawai (doom scrolling); serta (4) Risiko kegagalan program MBG akibat tidak adanya sinkronisasi data medis dan alergi siswa. Kesimpulan penelitian: Komunikasi dua arah adalah syarat mutlak. Diperlukan transformasi peran komite sekolah menjadi forum mediasi substantif, penerapan protokol "Tabayun Mandatory" bersama aparat hukum, serta penggunaan sistem satu pintu informasi digital untuk memastikan sinergi yang berkelanjutan demi menyelamatkan masa depan generasi bangsa.</p> <p>Kata Kunci: <em>Komunikasi Guru-Orang Tua, Teori Ekologi Bronfenbrenner, Kriminalisasi Guru, Makan Bergizi Gratis (MBG), Pendidikan Karakter.</em></p> </td> </tr> </tbody> </table> Sugiman Sugiman Muhammad Faizin ##submission.copyrightStatement## 2025-08-15 2025-08-15 3 2 8 15 10.28926/mekomda.v1i1.2563